Banyak Orang Jatuh Sakit Setelah Lebaran? Dokter Bicara Pemicunya

Papan Narasi – Momen Lebaran seharusnya menjadi waktu untuk bersukacita dan bersilaturahmi. Namun, pemandangan yang lazim ditemui setelah cuti bersama usai adalah antrean panjang di puskesmas, klinik, maupun rumah sakit. Fenomena “tumbang” berjamaah ini bukan sekadar kebetulan. Para praktisi medis mencatat adanya pola perilaku selama hari raya yang menjadi pemicu utama menurunnya imunitas tubuh secara drastis.

Banyak Orang Jatuh Sakit Setelah Lebaran? Dokter Bicara Pemicunya

Setelah satu bulan penuh berpuasa, tubuh telah beradaptasi dengan asupan kalori yang teratur dan terbatas. Namun, saat Lebaran tiba, banyak orang melakukan “balas dendam” kuliner. Hidangan khas seperti rendang, opor ayam, dan sambal goreng ati kaya akan santan, lemak jenuh, dan kolesterol.

Dokter mengingatkan bahwa konsumsi lemak berlebih secara mendadak dapat mengejutkan sistem pencernaan. Selain itu, camilan manis dan minuman bersoda yang tinggi gula dapat memicu peradangan dalam tubuh. Lonjakan kadar gula darah dan kolesterol ini sering kali berujung pada keluhan pusing, nyeri tenggorokan, hingga masalah pencernaan seperti gastritis atau diare.

1. Kelelahan Fisik yang Terakumulasi

Aktivitas selama Lebaran sangatlah padat, mulai dari persiapan mudik yang menguras energi, perjalanan jauh yang memicu stres fisik, hingga rutinitas bertamu ke rumah kerabat dari pagi hingga malam. Kurangnya waktu istirahat membuat tubuh tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pemulihan seluler.

Menurut penjelasan medis, kelelahan kronis atau fatigue dapat menekan sistem kekuasaan tubuh (imun). Ketika sel darah putih tidak bekerja optimal karena tubuh terlalu lelah, virus dan bakteri yang ada di lingkungan sekitar—atau yang terbawa saat bersalaman dengan banyak orang—menjadi lebih mudah menginfeksi tubuh.

2. Dehidrasi dan Paparan Cuaca Ekstrem

Di tengah euforia silaturahmi, banyak orang lupa mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Kebiasaan lebih memilih minuman manis atau kopi daripada air putih saat bertamu memperburuk kondisi dehidrasi. Ditambah lagi, cuaca yang sering kali tidak menentu atau panas menyengat saat perjalanan mudik membuat metabolisme tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu internal. Dehidrasi ringan saja sudah cukup untuk membuat konsentrasi menurun dan membuat lapisan lendir di saluran pernapasan mengering, yang merupakan pertahanan pertama melawan virus flu.

3. Kurangnya Kontrol pada Penyakit Penyerta (Komorbid)

Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes, atau asam urat, masa Lebaran adalah masa yang paling berisiko. Sering kali, karena alasan “merasa sedang merayakan,” pasien cenderung abai meminum obat rutin atau melanggar pantangan makan. Akibatnya, terjadi kekambuhan mendadak pasca-Lebaran. Dokter sering menjumpai pasien dengan tensi yang melonjak tajam atau kadar asam urat yang tinggi akibat konsumsi emping dan jeroan yang berlebihan selama hari raya.

Langkah Pemulihan: Kembali ke Pola Hidup Sehat

Untuk mengatasi kondisi ini, para ahli medis menyarankan beberapa langkah segera:

  • Detoksifikasi Alami: Kembali konsumsi air putih minimal 2 liter sehari dan perbanyak serat dari sayur dan buah untuk melancarkan pencernaan.

  • Evaluasi Kalori: Mulailah membatasi makanan berminyak dan bersantan. Berikan jeda bagi lambung untuk beristirahat.

  • Istirahat Berkualitas: Pastikan tidur selama 7–8 jam sehari untuk mengembalikan fungsi imun.

  • Aktivitas Fisik Ringan: Lakukan olahraga ringan seperti jalan santai untuk membantu membakar tumpukan kalori berlebih dari hidangan Lebaran.

Menjaga kesehatan setelah Lebaran adalah bentuk tanggung jawab setelah kita berhasil melewati bulan suci. Jangan sampai kebahagiaan hari kemenangan terhapus oleh rasa sakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan pengendalian diri.

By admin