Papan Narasi – Ketidakpastian mengenai kelanjutan insentif otomotif kembali menjadi perhatian pelaku industri kendaraan bermotor di Indonesia. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan sikapnya yang memilih untuk menyerahkan sepenuhnya keputusan terkait insentif tersebut kepada pemerintah. Di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan, Gaikindo menilai kebijakan fiskal menjadi salah satu faktor krusial dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan industri otomotif nasional.
Insentif Otomotif sebelumnya dinilai cukup efektif dalam mendorong penjualan kendaraan, terutama saat industri terdampak perlambatan ekonomi. Berbagai program seperti diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) terbukti mampu meningkatkan daya beli masyarakat dan menggairahkan pasar. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah skema insentif serupa akan kembali diterapkan atau dilanjutkan dalam waktu dekat.
Sekretaris Umum Gaikindo menegaskan bahwa asosiasi tidak berada pada posisi untuk menentukan kebijakan fiskal. Menurutnya, pemerintah memiliki pertimbangan yang lebih luas, mulai dari kondisi anggaran negara hingga prioritas sektor lain. Gaikindo hanya dapat menyampaikan aspirasi dan data terkait kondisi industri otomotif sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan.
Industri otomotif sendiri masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti fluktuasi nilai tukar, kenaikan harga bahan baku, serta perubahan tren konsumen. Di sisi lain, persaingan juga semakin ketat dengan masuknya berbagai merek baru, termasuk kendaraan listrik yang memerlukan dukungan kebijakan berbeda. Tanpa adanya insentif, pelaku industri khawatir laju pertumbuhan penjualan akan melambat, terutama di segmen kendaraan tertentu.
Gaikindo menilai insentif bukan semata-mata untuk kepentingan produsen, tetapi juga berdampak luas terhadap ekosistem industri. Sektor otomotif memiliki rantai pasok panjang yang melibatkan banyak industri pendukung, mulai dari komponen, logistik, hingga tenaga kerja. Penurunan penjualan kendaraan dapat berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja dan kontribusi industri terhadap perekonomian nasional.
Meski demikian, Gaikindo tetap menghormati sepenuhnya kewenangan pemerintah dalam menentukan arah kebijakan. Asosiasi menyatakan akan bersikap adaptif terhadap keputusan apa pun yang diambil. Jika insentif tidak dilanjutkan, pelaku industri diharapkan dapat mencari strategi lain untuk menjaga daya saing, seperti efisiensi produksi, inovasi produk, dan peningkatan layanan kepada konsumen.
Ke depan, Gaikindo berharap adanya komunikasi yang berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku industri otomotif. Dengan dialog yang terbuka, kebijakan yang dihasilkan diharapkan dapat selaras dengan kondisi pasar dan tujuan jangka panjang pembangunan industri nasional. Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, kepastian kebijakan dinilai menjadi kunci agar industri otomotif Indonesia tetap tumbuh dan berdaya saing.
